29 Sha'ban 1438 | En | FrDe
Pencarian Terperinci
Akidah Masyarakat dan Keluarga Muamalah Akhlak Jinayah Permasalahan Umum Masalah Kontemporer Ibadah

Hak Istri yang Ditalak sebelum Digauli

Memperhatikan permohonan fatwa nomor 775 tahun 2006 yang berisi:

Saya baru saja menikah dengan seorang gadis, tapi kemudian dia minta cerai sebelum saya menggaulinya. Pertanyaannya adalah apa sajakah hak-haknya berdasarkan syarak?
 

Jawaban : Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad

    Talak yang terjadi sebelum suami menggauli istrinya dikategorikan dalam talak bain shughra, yaitu talak yang membuat suami istri tidak bisa rujuk kembali kecuali dengan akad baru. 

    Jika perceraian itu terjadi berdasarkan keinginan sang istri dan ketika dijatuhkannya talak dia ada bersama suaminya, lalu dia menggugurkan seluruh haknya dari suami, maka dia tidak berhak mendapatkan apa-apa. Namun jika dia menggugurkan sebagian haknya saja, maka dia berhak mendapatkan bagian sesuai dengan kesepakatan mereka.

    Apabila sang istri tidak ada ketika suami menjatuhkan talak, maka dia berhak mendapatkan setengah dari mahar yang disepakati dalam akad nikah, mencakup mahar yang telah dibayarkan dan yang belum dibayarkan. Dalam adat kebiasaan masyarakat Mesir, barang seserahan (hantaran) dan perlengkapan pengantin perempuan yang diberikan suaminya termasuk dalam mahar. Sehingga, setengah dari barang-barang tersebut harus diberikan kepada istri. Adapun perlengkapan rumah tangga yang dibeli oleh istri atau keluarganya, maka ia sepenuhnya milik sang istri. Hal ini berdasarkan firman Allah,

    "Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah setengah dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah". (Al-Baqarah: 237).

    Jika sang istri menginginkan perceraian namun suaminya tidak bersedia menceraikannya sehingga terjadi khulu', maka sang istri harus mengembalikan semua mahar yang telah dia terima, termasuk barang seserahan (hantaran) dan barang perlengkapan pengantin perempuan. Suami pun terbebas dari kewajiban memenuhi mahar yang belum dibayar jika memang ada.

    Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam
 

Home Tentang Kami Kirim Pertanyaan Peta Situs Kritik dan Saran Hubungi Kami